Random Ayat

Wednesday, April 18, 2007

Dakwah Tidak Dapat Dipikul Orang Manja

Oleh:
DH Al Yusni

Wahai Saudaraku yang dikasihi Allah.

Perjalanan dakwah yang kita lalui ini bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi kegemerlapan dan kesenangan. Ia merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan dan rintangan berat.

Telah banyak sejarah orang-orang terdahulu sebelum kita yang merasakan manis getirnya perjalanan dakwah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang harus berpisah kaum kerabatnya. Ada pula yang diusir dari kampung halamannya. Dan sederetan kisah perjuangan lainnya yang telah mengukir bukti dari pengorbanannya dalam jalan dakwah ini. Mereka telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan terhadap dakwah.

Cobalah kita tengok kisah Dzatur Riqa’ yang dialami sahabat Abu Musa Al Asy’ari dan para sahabat lainnya –semoga Allah swt. meridhai mereka. Mereka telah merasakannya hingga kaki-kaki mereka robek dan kuku tercopot. Namun mereka tetap mengarungi perjalanan itu tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan, mereka malu untuk menceritakannya karena keikhlasan dalam perjuangan ini. Keikhlasan membuat mereka gigih dalam pengorbanan dan menjadi tinta emas sejarah umat dakwah ini. Buat selamanya.

Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan dakwah ini menjadi suri teladan bagi kita sekalian. Karena kontribusi yang telah mereka sumbangkan untuk dakwah ini tumbuh bersemi. Dan, kita pun dapat memanen hasilnya dengan gemilang. Kawasan Islam telah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Umat Islam telah mengalami populasi dalam jumlah besar. Semua itu karunia yang Allah swt. berikan melalui kesungguhan dan kesetiaan para pendahulu dakwah ini. Semoga Allah meridhai mereka.

Duhai saudaraku yang dirahmati Allah swt.

Renungkanlah pengalaman mereka sebagaimana yang difirmankan Allah swt. dalam surat At-Taubah: 42.

Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka, mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.

Mereka juga telah melihat siapa-siapa yang dapat bertahan dalam mengarungi perjalanan yang berat itu. Hanya kesetiaanlah yang dapat mengokohkan perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kesuksesan. Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan dan kesukaran. Demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.

Saudaraku seperjuangan yang dikasihi Allah swt.

Sebaliknya orang-orang yang rentan jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak untuk menunaikannya dengan berbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya berguguran satu per satu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan.

Penyakit wahan telah menyerang mental mereka yang rapuh sehingga mereka tidak dapat menerima kenyataan pahit sebagai risiko dan sunnah dakwah ini. Malah mereka menggugatnya lantaran anggapan mereka bahwa perjuangan dakwah tidaklah harus mengalami kesulitan.

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At-Taubah: 45-46)

Kesetiaan yang ada pada mereka merupakan indikasi kuat daya tahannya yang tangguh dalam dakwah ini. Sikap ini membuat mereka stand by menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Bila ditugaskan sebagai prajurit terdepan dengan segala akibat yang akan dihadapinya, ia senantiasa berada pada posnya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun. Atau bila ditempatkan pada bagian belakang, ia akan berada pada tempatnya tanpa berpindah-pindah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw. dalam beberapa riwayat tentang prajurit yang baik.

Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah.

Marilah kita telusuri perjalanan dakwah Abdul Fattah Abu Ismail, salah seorang murid Imam Hasan Al Banna yang selalu menjalankan tugas dakwahnya tanpa keluhan sedikitpun. Dialah yang disebutkan Hasan Al Banna orang yang sepulang dari tempatnya bekerja sudah berada di kota lain untuk memberikan ceramah kemudian berpindah tempat lagi untuk mengisi pengajian dari waktu ke waktu secara maraton. Ia selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk menunaikan amanah dakwah. Sesudah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya, ia merupakan orang yang pertama kali datang ke tempatnya bekerja. Malah, ia yang membukakan pintu gerbangnya.

Pernah ia mengalami keletihan hingga tertidur di sofa rumah Zainab Al-Ghazali. Melihat kondisi tubuhnya yang lelah dan penat itu, tuan rumah membiarkan tamunya tertidur sampai bangun. Setelah menyampaikan amanah untuk Zainab Al Ghazali, Abdul Fattah Abu Ismail pamit untuk ke kota lainnya. Karena keletihan yang dialaminya, Zainab Al Ghazali memberikan ongkos untuk naik taksi. Abdul Fattah Abu Ismail mengembalikannya sambil mengatakan, “Dakwah ini tidak akan dapat dipikul oleh orang-orang yang manja.” Zainab pun menjawab, “Saya sering ke mana-mana dengan taksi dan mobil-mobil mewah, tapi saya tetap dapat memikul dakwah ini dan saya pun tidak menjadi orang yang manja terhadap dakwah. Karena itu, pakailah ongkos ini, tubuhmu letih dan engkau memerlukan istirahat sejenak.” Ia pun menjawab, “Berbahagialah ibu. Ibu telah berhasil menghadapi ujian Allah swt. berupa kenikmatan-kenikmatan itu. Namun, saya khawatir saya tidak dapat menghadapinya sebagaimana sikap ibu. Terima kasih atas kebaikan ibu. Biarlah saya naik kendaraan umum saja.”

Duhai saudaraku yang dimuliakan Allah swt.

Itulah contoh orang yang telah membuktikan kesetiaannya pada dakwah lantaran keyakinannya terhadap janji-janji Allah swt. Janji yang tidak akan pernah dipungkiri sedikit pun. Allah swt. telah banyak memberikan janji-Nya pada orang-orang yang beriman yang setia pada jalan dakwah berupa berbagai anugerah-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)- mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)

Dengan janji Allah swt. tersebut, orang-orang beriman tetap bertahan mengarungi jalan dakwah ini. Dan mereka pun tahu bahwa perjuangan yang berat itu sebagai kunci untuk mendapatkannya. Semakin berat perjuangan ini semakin besar janji yang diberikan Allah swt. kepadanya. Kesetiaan yang bersemayam dalam diri mereka itulah yang membuat mereka tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. Dan, mereka pun tidak akan pernah mau merubah janji kepada-Nya.

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). (Al Ahzab: 23)

Wahai ikhwah kekasih Allah swt.

Pernah seorang pejuang Palestina yang telah berlama-lama meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk membuat mencari dukungan dunia dan dana diwawancarai. “Apa yang membuat Anda dapat berlama-lama meninggalkan keluarga dan kampung halaman?” Jawabnya, karena perjuangan. Dan, dengan perjuangan itu kemuliaan hidup mereka lebih berarti untuk masa depan bangsa dan tanah airnya. “Kalau bukan karena dakwah dan perjuangan, kami pun mungkin tidak akan dapat bertahan,” ungkapnya lirih.

Wahai saudaraku seiman dan seperjuangan

Aktivis dakwah sangat menyakini bahwa kesabaran yang ada pada dirinyalah yang membuat mereka kuat menghadapi berbagai rintangan dakwah. Bila dibandingkan apa yang kita lakukan serta yang kita dapatkan sebagai risiko perjuangan di hari ini dengan keadaan orang-orang terdahulu dalam perjalanan dakwah ini, belumlah seberapa. Pengorbanan kita di hari ini masih sebatas pengorbanan waktu untuk dakwah. Pengorbanan tenaga dalam amal khairiyah untuk kepentingan dakwah. Pengorbanan sebagian kecil dari harta kita yang banyak. Dan bentuk pengorbanan ecek-ecek lainnya yang telah kita lakukan. Coba lihatlah pengorbanan orang-orang terdahulu, ada yang disisir dengan sisir besi, ada yang digergaji, ada yang diikat dengan empat ekor kuda yang berlawanan arah, lalu kuda itu dipukul untuk lari sekencang-kencangnya hingga robeklah orang itu. Ada pula yang dibakar dengan tungku yang berisi minyak panas. Mereka dapat menerima resiko karena kesabaran yang ada pada dirinya.

Kesabaran adalah kuda-kuda pertahanan orang-orang beriman dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah berkurang sedikit pun karena keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah swt.

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran: 146)

Bila kita memandang kehidupan generasi pilihan, kita akan temukan kisah-kisah brilian yang telah menyuburkan dakwah ini. Muncullah pertanyaan besar yang harus kita tujukan pada diri kita saat ini. Apakah kita dapat menyemai dakwah ini menjadi subur dengan perjuangan yang kita lakukan sekarang ini ataukah kita akan menjadi generasi yang hilang dalam sejarah dakwah ini.

Ingat, dakwah ini tidak akan pernah dapat dipikul oleh orang-orang yang manja. Militansi aktivis dakah merupakan kendaraan yang akan menghantarkan kepada kesuksesan. Semoga Allah menghimpun kita dalam kebaikan. Wallahu’alam.

Friday, April 13, 2007

Menjadi Muslim Profesional

Seorang profesional adalah seseorang yang menawarkan jasa atau layanan sesuai dengan protokol dan peraturan dalam bidang yang dijalaninya dan menerima gaji sebagai upah atas jasanya. Orang tersebut juga merupakan anggota suatu entitas atau organisasi yang didirikan seusai dengan hukum di sebuah negara atau wilayah. Meskipun begitu, seringkali seseorang yang merupakan ahli dalam suatu bidang juga disebut "profesional" dalam bidangnya meskipun bukan merupakan anggota sebuah entitas yang didirikan dengan sah. Sebagai contoh, dalam dunia olahraga terdapat olahragawan profesional yang merupakan kebalikan dari olahragawan amatir yang bukan berpartisipasi dalam sebuah turnamen/kompetisi demi uang. (http://id.wikipedia.org/wiki/Profesional)

Arti kata profesional kemudian berkembang, baik dari segi maupun fungsi kata itu sendiri. Kata profesional, kemudian lebih banyak digunakan untuk mendeskripsikan profesi seseorang, selain olahragawan, kita juga mengenal istilah pengusaha yang professional, karyawan professional, guru professional, pejabat professional, bahkan belakangan muncul penggunaan kata professional yang mungkin sangat jauh dari makna awalnya, yaitu penjahat professional, maling professional, kawanan pembobol bank professional, dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan profesionalitas kita sebagai muslim?

Meminjam istilah profesionalitas untuk seorang pekerja atau karyawan yang mensyaratkan Komitmen yang meliputi loyalitas, totalitas, semangat, pengabdian dan dedikasi, dan kompetensi – seperti skill individu, kemampuan berorganisasi, ketrampilan, kecakapan dan lainnya, seorang muslim yang baik harus memiliki nilai-nilai kompetensi dan komitment seperti tersebut diatas atau dengan kata lain sebagai muslimpun kita harus “professional”.

Kompetensi seorang muslim adalah kemampuan, ketrampilan, kecakapan, pengetahuan, pemahaman dan wawasan seorang muslim terhadap islam.

Kompetensi seorang muslim meliputi pengetahuannya tentang Islam, tentang rukun Islam dan rukun Iman, tentang hokum-hukum islam – Wajib, Sunah, Haram, makruh atau mubah, bisa membaca al qur’an, mengerti bacaan shalat, tahu kewajiban-kewajiban syar’i-nya, tahu ilmu fiqh.

Komitmen seorang muslim adalah loyalitas, penghambaan, keikhlasan, pengabdian, kepatuhan terhadap hukum syari;at dan undang-undang yang telah ditetapkan oleh Allah swt sebagai konsekuensi keislamannya.

Kompetensi saja, belum cukup untuk menjadikan kita sebagai seorang muslim yang propesional. Pemahaman kita tentang hukum halal dan haram saja, tanpa disertai komitmen kita untuk menjalankan hukum tersebut secara benar, justru banyak melahirkan “muslim amatir”, yang hanya pandai berdalil, tapi miskin dalam pelaksanannya.

Kecakapan kita dalam membaca bacaan shalat dan melakukan gerakan shalat secara sempurna saja, tanpa diikuti komitmen untuk menegakan shalat tepat waktu, menegakan shalat secara benar, belum akan mencapai esensi nilai shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar.

Pengetahuan kita tentang kewajiban zakat, pemahaman kita tentang urgensi puasa, dan kecukupan kita untuk menunaikan ibadah haji, yang tidak disertai komitemen kuat, hanya akan melahirkan “muslim amatir” yang hanya pandai bicara, pandai berdalil, fasih berfatwa, tapi nol besar dalam amaliahnya.

Sebaliknya, ketika seorang muslim mempunyai tekad yang kuat, mempunyai kesungguhan, memiliki keinginan untuk melaksanakan hukum-hukum yang telah disyari’atkan, belum merupakan ciri muslim professional, karena komitmen yang tidak disertai kemampuan, pemahaman dan pengetahuan tentang ilmu yang mendasarinya, akan melahirkan komitmen semu, komitmen yang bias, komitmen yang absurb.

Contoh kecilnya, seorang yang memiliki komitmen sangat tinggi, sehingga dengan komitmennya itu ia melaksanakan shalat shubuh yang seharusnya 2 rakaat menjadi 4 rakaat misalnya, bukankah ini sama saja dengan “muslim amatir” yang sok rajin dan penuh komitmen?

Seorang muslim professional adalah seorang muslim yang memiliki paduan sempurna antara Kompetensi yang memadai dan komitmen yang kuat.

Seorang muslim professional tahu makna dan arti syahadat yang diucapkannya, kemudian ia berkomitment untuk tidak beribadah kepada selain Allah, dan menjadikan Rasulullah sebagai satu-satunya sosok teladan yang harus diikuti, sehingga kemudian ia menjadi pribadi yang terpelihara dari sifat-sifat musyrik dan kufur.

Seorang muslim professional tahu rukun dan syarat sahnya shalat, ia juga berkomitmen untuk menegakan shalat dengan penuh keikhlasan dan penuh pengabdian. Sehingga kemudian shalat yang dirikannya mampu menjadikan ia sebagai sesosok pribadi muslim yang paripurna, berilmu dan beramal, ia akan menjadi muslim professional.

Seorang muslim professional tahu syari’at zakat dengan benar, kemudian ia dengan komitmen tinggi melaksanakan kewajiban berzakat yang disertai dengan kesadaran dan keikhlasan, yang dengan itu, ia menjadi sosok pribadi yang bersih secara lahir dan bathin, baik kebersihan jasmaninya, maupun kebersihan harta bendanya.

Seorang muslim professional tahu bahwa Allah mewajibkan puasa, dan ia tahu rukun dan syarat puasa, kemudian denga komitmen yang benar, ia melaksanakan shaum ramadhan dengan diserta iman dan keihlasan, sehingga ketika ia keluar dari ramadhan, ia benar-benar menjadi sosok yang kembali pada fitrah kemanusiaan dan kebenaran.

Seorang muslim professional adalah muslim yang tahu kewajiban dan syari’at haji dengan benar, kemudian ia, dengan kemampuan yang diberikan Allah kepadanya, ia dengan penuh komitmen menunaikan kewajiban itu, sehingga ia berhak mendapa balasan dari Allah berupa janahnya kelak, pun didunia sekembalinya ia dari ibadah haji, menjadi sosok pribadi yang dipenuhi nilai-nilai “mekah dan madinah”, nilai-nilai arofah yang didapatnya selama ibadah haji.

Profesional, kata kunci yang akan mengantar kita pada gerbang keberhasilan. Atlet professional, yang mengerti tanggung jawabnya sebagai atlet, berpeluang besar untuk menjadi atlet yang banyak meraih gelar.

Karyawan professional, yang memiliki kompetensi dan komitment tinggi terhadap pekerjaannya, memiliki potensi untuk mencapai karir tertinggi dalam bidangnya.

Pun dengan pejabat professional, aparat professional, insya allah mereka adalah orang-orang yang sudah menjejankan sebelah kakinya pada ruang keberhasilan.

Muslim professional, muslim yang mengerti Islam dengan benar dan dengan penuh komitmen kepada Allah untuk melaksanakannya, berpeluang besar untuk mendapat ridha dan jannah-Nya, Insya Allah..

Wassalam